Rabu, 24 November 2010

Setting CO Motor Injeksi

Motor Injeksi

Karbon monoksida (CO) adalah gas tidak berwarna, gak berbau dan berasa. Muncul dari pembakaran ngak sempurna di mesin pembakaran dalam, akibat kekurangan oksigen atau kelebihan bensin dari kesalahan seting alat penyuplai gas bakar sistem manual.
Lantas agar kadar CO minim, penyuplai sistem injeksi yang sarat sensor pun diterapken. Seperti di Yamaha V-Ixion, Honda Supra X 125 PGM-FI (Honda Susi = Supra Injeksi) atau Suzuki Shogun 125 FI. Lalu yang jadi pertanyaan, apakah CO di injeksi masih perlu diseting. Mengingat adanya faktor keausan material dan perbedaan suhu sekitar. Jelasnya, baca terusss!

Tinggal pencet tombol up atau down untuk atur CO
Tinggal pencet tombol up atau down untuk atur CO

YAMAHA V-IXION

Seting di Bengkel Resmi
Meski ditegaskan pabrikan tak perlu lagi seting CO, namun para penyemplak V-ixion banyak yang penasaran. Pengin coba seting di bengkel resmi. Apalagi Yamaha sudah membekali tiap bengkel dengan alat pendiagnosa bernama FI Diagnostic Tool.
Secara teknis, bila alat ini dicolok ke salah satu kabel di ECU (Electronic Contol Unit), maka FI Diagnostic Tool akan memberi info lengkap. Tentang kondisi injeksi maupun komponen penunjang kerja injeksi. Termasuk info CO yang banyak jadi pegangan bikers.
“Pabrikan pasti menyetel CO itu dalam batas aman untuk regulasi emisi. Karena itu setel di angka 0,” kata Riswandi, Manager Education-Service, PT Yamaha Motor Kencana Indonesia (YMKI). Lebih lanjut beliau menjelaskan, bahwa untuk wilayah Indonesia pada umumnya cukup di angka itu.
“Tapi memang kadang ada konsumen minta tambah atau dikurangi. Tindakan itu tentu ada konsekuensinya,” lanjut Riswandi. Alat ini sendiri bertugas melakukan adjuster atau penyetingan dengan range (jarak) antara -30 sampai +30. Maksudnya bila angka dinaikkan atau (+) bertambah, artinya campuran gas bakar akan kaya bensin.
“Efeknya tenaga memang bertambah,” terang pria ramah ini lebih lanjut. Riswandi juga menjelaskan, bahwa jika penambahan ini dilakukan, berarti angka CO meningkat atau emisinya juga berlebih. Penambahan ini mungkin dapat dilakukan di daerah yang relatif dingin.
Oh ya, setiap penambahan satu angka maka yang terjadi adalah penambahan suplai bensin sebesar 0,05 cc lebih banyak dibanding sebelumnya. Sedangkan kalau angkanya dibuat minus atau di bawah 0, maka itu artinya miskin bahan bakar.
“Efeknya mungkin tarikan agak enteng tapi tidak bertenaga. Selain itu mesin juga akan lebih cepat panas,” lanjut pria yang bisa ditemui di DDS Jakarta, Jl. Letjen Suprapto, No. 402, Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Alat diagnosa ini sendiri punya tiga kabel. Kabel hijau disambungkan ke self diagnostic yang posisinya di bawah jok, warna merah ke (+) aki dan hitam ke (-). Untuk seting CO, kunci kontak harus dalam kondisi ON atau nyala.

HONDA SUPRA X 125 PGM-FI

Disarankan Setingan Pabrik
Untuk Supra X 125 PGM-FI, prinsip kerja seting CO juga sama dengan Yamaha. “Kalau digeser plus jadi kaya bensin, namun polutan CO jadi tinggi,” kata Bejo, kepala mekanik Jakarta Honda Center. Tapi doi tetap menyarankan konsumen agar tetap mematuhi setingan CO sesuai pabrikan. Karena kondisinya sudah siap dengan berbagai kondisi alam Indonesia. “Lagian kan motor seperti itu nggak buat balapan,” kata Bejo.

 Semua sensor memberi sinyal ke ECM. Lalu regulator dan injektor 
mengatur debit bensin ke ruang bakar
Semua sensor memberi sinyal ke ECM. Lalu regulator dan injektor mengatur debit bensin ke ruang bakar


SUZUKI SHOGUN 125 FI
Percaya Sensor Injeksi
Berbeda dengan produk lainnya, Suzuki lebih mempercayakan setingan yang sudah dipatentkan pabrikan. Maksudnya mekanik tak perlu repot harus melakukan pekerjaan ini, sementara konsumen tidak perlu khawatir kadar CO di motornya meningkat.
Tentu dari keterangan ini Suzuki bukan bermaksud mengatakan tak punya alat diagnosa. Tapi setingan yang sekarang, kadar CO motor ini sudah standar EURO II. Lagi pula injeksi kan lebih pintar, mudah perawatan dan didukung beberapa sensor.


“Nah, tugas sensor ini yang nanti memberi sinyal ke ECM, untuk selanjutnya memerintah regulator dan injector mengatur debit bensin ke ruang bakar. Makanya konsumen nggak usah khawatir. Kecuali jika ada kebocoron udara palsu di seputar throttle body,” ujar Josef Anthony, kepala instruktur training roda dua, PT Indomobil Suzuki International. Jadi begitu tugas sensor.
Penulis: Nurfil/KR15
Sumber: Otomotifnet.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar